Info Sains

Latest Post

Membuat Sel Surya di Atas Kertas

Written By Agus Dwianto on Jumat, 15 Juli 2011 | 09.31

KOMPAS.com — Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology berhasil menciptakan teknologi pembuatan panel surya yang bisa dicetak di selembar kertas. Perkembangan ini membuat pembuatan panel surya lebih murah dan mudah.
Panel surya dari kertas ini cukup kuat walaupun telah dilipat menjadi mainan pesawat terbang. Selain itu, panel surya yang fleksibel tersebut dapat diisi ulang saat terkena cahaya matahari.
Proses pencetakan menggunakan uap, bukan cairan. Penggunaan suhu kurang dari 120 derajat Celsius memungkinkan penggunaan kertas, plastik, atau kain biasa sebagai wadah panel surya.
Peneliti mengatakan, "Panel dari kertas ini menjadi sebuah terobosan yang dapat mengurangi biaya produksi dalam pembuatan panel surya. Biayanya hampir seperseribu biaya panel yang terbuat dari kaca."
Peneliti mengatakan, sel surya yang dicetak di atas kertas ini masih dalam tahap uji coba, efisiensinya masih sekitar 1 persen.


Profesor Teknik Elektro Vladimir Bulovic yang turut serta dalam penelitian ini mengatakan, walaupun efisiensi masih sangat kecil, panel ini sudah bisa menggerakkan alat-alat kecil. "Saya yakin, dalam waktu dekat kami akan menyempurnakan panel surya fleksibel ini," ujarnya. (National Geographic Indonesia/Arief Sujatmoko)

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/07/12/13531651/Membuat.Sel.Surya.di.Atas.Kertas

Melihat dengan Telinga Lewat Pantulan Suara

Written By Agus Dwianto on Kamis, 14 Juli 2011 | 05.00

REPUBLIKA.CO.ID, Kemampuan pelacakan pantulan suara atau Echolot, membuat banyak tunanetra dapat menentukan jarak, posisi serta arah di lingkungan sekitarnya. Dengan itu, dalam kehidupan sehari-hari, mereka dapat lebih mandiri.

Binatang seperti lumba-lumba atau kelelawar, sejak lama diketahui memiliki kemampuan menentukan orientasi arah dan situasi lingkungannya dengan bantuan Echolot. Caranya, binatang ini mengirimkan gelombang suara, yang pantulannya menunjukkan, apakah di depan terdapat obyek atau halangan tertentu.


Dengan itu, lumba-lumba dan kelelawar dapat melacak posisi mangsanya, menghindari rintangan serta dapat menentukan arah dalam situasi nyaris tanpa cahaya. Manusia penderita cacat netra juga memiliki kemampuan menentukan orientasi lewat pantulan suara. Jadi ibaratnya penderita cacat netra melihat situasi sekitar dengan telinganya.

Berorentasi lewat Pantulan

Sebuah tim peneliti dari Kanada belum lama ini melaporkan hasil risetnya, mengenai fenomena pelacakan pantulan suara untuk orientasi, di kalangan penderita cacat netra ini. Dengan bantuan beragam bunyi yang diciptakan sendiri serta penafsiran pantulannya, para penderita cacat netra menciptakan alat bantu untuk orientasi mobilitasnya.

Tim peneliti pimpinan Prof. Mel Googale, terdiri atas tiga orang ilmuwan dari Universitas West Ontario, Kanada, ini melakukan riset untuk mengenali kemampuan pelacakan pantulan suara sebagai alat bantu orientasi di kalangan penderita cacat netra ini.

Salah seorang peneliti tim ini, Lore Thaler yang lahir di Jerman, menggambarkan sasaran penelitiannya, "Point utama riset kami adalah mengukur aktivitas otak. Para responden membuat suara jentikan, dan kami memasang mikrofon kecil di telinga mereka. Dengan itu suara jentikan dan pantulannya direkam. Kami memanfaatkan tomografi dan memperdengarkan rekamannya kepada responden. Pada saat bersamaan kami mengukur aktivitas otak."

Riset Ilmiah

Penelitian kemampuan manusia untuk berorientasi lewat pantulan suara sudah dilakukan sejak tahun 1940-an. Akan tetapi, risetnya tidak dilakukan secara sistematis. Karena itulah, Lore Thaler dan tim penelitinya kini melakukan riset berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah.

"Kami membandingkan dua jenis rekaman. Pada rekaman pertama ada pantulan suaranya, dan pada yang lainnya pantulan suaranya dipotong. Jika kami membandingkan aktivitas otak, antara rekaman dengan dan tanpa pantulan suara, kami juga dapat mengukur aktivitas di kawasan visual pada otak, tapi tidak pada kawasan otak auditif," dijelaskan Lore Thaler.

Jika responden mendengar pantulan suaranya, dengan segera jaringan otak untuk fungsi melihat diaktifkan. Ini adalah kawasan otak, di mana pada orang yang bisa melihat, dilakukan pengolahan citra dari informasi yang dikirimkan mata. Namun hal itu merupakan salah satu hasil riset, yang juga melibatkan beragam frekuensi. Beragam material dan permukaan yang berbeda-beda, mengirimkan frekuensi yang berbeda-beda pula, di mana penderita cacat netra dapat mengenalinya lewat pantulan suaranya.

Melatih Kemampuan

Kemampuan ini, juga dapat dilatih oleh orang yang dapat melihat, karena persyaratannya dimiliki semua orang. Dikatkan Lore Thaler, "Jika kita memasuki sebuah ruangan dan menutup mata, serta bergerak di dalam ruangan, kebanyakan memiliki kesan cukup bagus, mengenai seberapa besar ruangannya. Ini sebetulnya merupakan sejenis pengindraan dasar menyangkut besarnya sebuah ruangan lewat pantulan suara."

Dengan penelitiannya itu, para ilmuwan dari Kanada hendak menyingkrikan keraguan para periset lainnya, menyangkut kemampuan Echolot pada manusia. Sebab kalangan peneliti yang skeptis melihat kurangnya bukti ilmiah menyangkut tema ini. Lore Thaler ingin memberikan bukti ilmiahnya lewat penelitian pengukuran aktivitas otak.

Selain itu, tim periset dari Kanada itu hendak mengembangkan metode pendidikan, agar penderita cacat netra dan juga orang yang bisa melihat, memiliki kemungkinan mempelajari kemampuan Echolot ini.

Redaktur: Krisman Purwoko
Sumber: dw-world

Dikutip dari http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains/11/07/02/lno7c8-melihat-dengan-telinga-lewat-pantulan-suara

Pendidikan Karakter Bakal Diterapkan Kemendiknas Tahun ini

Written By Agus Dwianto on Rabu, 13 Juli 2011 | 19.43

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menerapkan pendidikan karakter untuk sekolah dasar dan menegah mulai tahun ajaran ini. "Metodologinya nanti akan diintegrasikan kepada setiap pelajaran," kata staf khusus Mendiknas bidang komunikasi dan media, Sukemi di Surabaya, Rabu (13/7).

Ia mengemukakan hal itu saat berbicara dalam dialog pendidikan ke-3 yang digelar Pusat Informasi dan Humas (PIH) Kemendiknas dan dihadiri 100 guru MI/MTs. Dalam dialog yang bertajuk 'Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa' itu, ia menjelaskan Badan Kurikulum Kemendiknas sudah melakukan persiapan.

"Kami sudah melakukan pemantapan sejumlah guru bidang studi, lalu Badan Kurikulum Kemendiknas juga menyiapkan kisi-kisi integrasi itu. Pak Nuh (Mendiknas) juga sudah mengeluarkan instruksi," paparnya.

Misalnya, pendidikan karakter tentang kejujuran dapat diintegrasikan dalam mata pelajaran matematika, PKN, agama, dan sebagainya. "Tentu di lapangan akan ada improvisasi, tapi hal itu terserah para guru," ucapnya dalam dialog yang dibuka Kepala PIH Kemendiknas Prof Ibnu Hamad itu.

Dalam dialog yang juga mengundang pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), ia mengatakan pihaknya juga akan memantau pelaksanaan pendidikan karakter itu. "Kalau ada kisah atau pengalaman inspiratif dalam pendidikan karakter itu, kami akan bagikan kepada sekolah lain untuk sekolah percontohan," ujarnya.

Ia menambahkan Mendiknas sudah menetapkan empat inti pendidikan karakter yakni jujur, cerdas, bisa bersahabat, dan bertanggung jawab. Senada dengan itu, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), mengatakan pihaknya juga menerapkan empat pendidikan karakter di pesantren yang diasuhnya.

"Di Tebuireng, kami menanamkan karakter ihlas, jujur, bertanggung jawab, dan tasamuh (toleran/peduli). Kalau melanggar akan kami beri sanksi, misalnya, kalau menyontek akan diberi ujian ulang sendirian," katanya menegaskan.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya Prof Dr Abd Haris MA menegaskan bahwa eksistensi suatu bangsa memang ditentukan karakter. "Kalau bangsa itu ingin eksis, maka bangsa itu harus memiliki karakter. Kalau tidak, maka bangsa itu akan hancur," katanya.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara

Dikutip dari : http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita-pendidikan/11/07/13/lo9jk3-pendidikan-karakter-bakal-diterapkan-kemendiknas-tahun-ini

Mencari Asal-usul Kehidupan

Written By Agus Dwianto on Selasa, 12 Juli 2011 | 15.53

KOMPAS.com — Dalam Frankenstein, buku klasik karya Mary Shelley yang terbit tahun 1818, Victor Frankenstein mengumpulkan potongan-potongan mayat dan menjahitnya menjadi tubuh yang utuh. Menggunakan aliran listrik, Frankenstein berhasil menciptakan kehidupan meski kemudian menyesalinya.

Dalam kehidupan nyata, manusia memang tak henti-hentinya mencari jawaban, apakah kehidupan ini ada karena suatu kuasa atau semata-mata proses alam?

Ada berbagai teori dan percobaan menyangkut asal-usul kehidupan. Dalam buku The Grand Design (2010), fisikawan Stephen Hawking bersama Leonard Mlodinow menjelaskan tentang penciptaan ini. Menurut mereka, ”Tata surya dapat membentuk dirinya sendiri karena ada hukum alam, seperti gravitasi. Maka, penciptaan spontan adalah sumber adanya ’sesuatu’ dan bukan kehampaan, adanya alam semesta dan adanya kita.”

Sebelum itu, para ahli biokimia sudah merumuskan berbagai teori dan menguji coba di laboratorium. Salah satu yang fenomenal adalah uji laboratorium yang dilakukan Stanley Miller, kandidat doktor di University of Chicago, Amerika Serikat, tahun 1953.

Miller mereproduksi kondisi atmosfer purba dengan hidrogen, air, metana, dan amonia dalam bejana dan memanasinya. Dalam seminggu ia menemukan endapan senyawa organik penyusun kehidupan: asam amino.

Ragam asam amino itu—glisin, alanin, aspartik, dan glutamik—adalah unsur dasar pembentuk protein, penyusun struktur sel, dan berperan penting dalam reaksi biokimia yang dibutuhkan kehidupan.

Bukti baru

Pekan lalu, Lembaga Aeronautika dan Antariksa AS (NASA) memublikasikan hasil pengujian terhadap bahan penelitian Miller. Bahan ini, dengan alasan yang tidak pernah diketahui, tidak pernah dicoba sampai Miller meninggal tahun 2007.

Bahan ini mengandung hidrogen sulfida (H2S) yang belum pernah digunakan sebelumnya. ”Hidrogen sulfida berfungsi menstimulasi kondisi awal atmosfer kita,” kata Eric Parker dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, dalam situs resmi NASA.

Parker adalah penulis utama laporan ilmiah tersebut dalam The Proceedings of the National Academy of Sciences.

”Sungguh mengagetkan, dengan menggunakan H2S, asam amino yang dihasilkan jauh lebih kaya dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya,” ujar Profesor Jeffrey Bada dari Scripps Institution of Oceanography, University of California. Ia berpartisipasi dalam penelitian ini.

Total diperoleh 22 jenis asam amino dan 10 jenis di antaranya belum pernah ditemukan dalam percobaan serupa. Salah satu dari asam amino tersebut, metionin, berperan besar dalam kode genetik. ”Metionin menginformasikan pada sel untuk menerjemahkan suatu desain menjadi protein,” kata Dr James Cleaves dari Carnegie Institution of Washington, anggota tim peneliti.

Kesimpulannya, penelitian menunjukkan peran gunung berapi pada pembentukan senyawa organik awal. Seperti diketahui, gunung berapi adalah sumber sulfur yang berlimpah. Kilat cahaya yang muncul saat gunung meletus, seperti aliran listrik yang membangkitkan kehidupan. Dengan demikian, kawasan gunung berapi bisa jadi menjadi lokasi awal mula kehidupan karena merupakan daerah yang kaya senyawa organik, baik jenis maupun jumlahnya.

Penelitian lebih lanjut pada meteorit— partikel antariksa yang tidak habis terbakar di atmosfer dan jatuh ke Bumi—menunjukkan bahwa selain kaya unsur karbon, meteorit juga mengandung beragam asam amino. Maka, bisa jadi molekul penting yang berperan dalam kehidupan berasal dari antariksa dan mempercepat munculnya kehidupan karena bahan bakunya sudah siap bersenyawa.

”Kami menemukan bahwa tipe asam amino yang dihasilkan dengan menambahkan H2S ternyata hampir sama dengan asam amino pada meteorit yang kaya karbon,” tutur D Jason Dworkin dari NASA Goddard yang memimpin Laboratorium Astrochemistry NASA.

Awal mula

Meski demikian, kerja Miller tak lepas dari teori-teori yang dihasilkan para ahli biokimia sebelumnya. Menurut John Haldane dari Inggris tahun 1929, atmosfer pada zaman Bumi purba tidak memiliki oksigen bebas.

Kemudian Haldane dan Aleksander Oparin dari Soviet menyatakan, ”Semua bahan baku kehidupan sudah ada di Bumi sejak awal mula, demikian juga dengan energi dari Matahari dan proses yang belum diketahui, tapi memicu munculnya kehidupan.”

Di Amerika, tahun 1952, ahli biokimia Harold C Urey mengelaborasi teori Haldane dan Oparin dengan menyebutkan unsur-unsur yang ada sejak terbentuknya semesta, yaitu hidrogen, oksigen, nitrogen, dan karbon. Inilah yang kemudian membentuk air, amonia, dan metana sebagai unsur dasar pembentuk kehidupan.

Adalah Stanley Miller yang kemudian mengombinasikan ide Haldane, Oparin, dan Urey dalam percobaannya. Selain menemukan senyawa organik penyusun kehidupan, percobaan Miller juga membuktikan betapa mudah asam amino terbentuk.

Pada tahun yang sama, 1953, penemuan struktur DNA—deoxyribonucleic acid yang membawa kode genetik—semakin membuktikan besarnya peran senyawa organik dasar menyusun kehidupan. Penemuan DNA juga membuka pemahaman terhadap beberapa senyawa, di antaranya asam nukleid, yang bisa bereplikasi dan mewariskan kehidupan.

Semua penelitian di atas mengarah pada pembentukan asam amino sebagai langkah awal evolusi. Akan tetapi, betulkah semua ini proses alam semata seperti yang dipercaya Hawking dan Mlodinow, ataukah ada kehendak Yang Kuasa?

Sumber :http://sains.kompas.com/read/2011/04/06/12315545/Mencari.Asal-usul.Kehidupan

Perubahan Iklim Mengubah Ekosistem

KOMPAS.com - Perubahan iklim membuat perubahan besar dalam ekosistem, seperti perubahan siklus hidup tumbuhan dan hewan dan peningkatan level permukaan laut. Demikian hasil penelitian yang disampaikan oleh Patrick Gonzales, US National Park Service dalam presentasi "Discovering Ways to Vulnerable Ecosystems Adapt to Impacts of Climate Change" pada 2011 Indonesian-American Kavli Frontiers of Science Symposium, Sabtu (9/7/2011) di Bogor.

Ia menjelaskan, perubahan iklim menggeser waktu vegetasi berbunga serta migrasi hewan. Peristiwa-peristiwa secara tidak langsung memengaruhi siklus hidup tumbuhan dan hewan, dan pada akhirnya, memengaruhi kelangsungan ekosistem.


"Indikasi dari perubahan iklim juga terdeteksi menggandakan kematian pohon di Amerika Serikat selama 1955 hingga 2007," jelasnya. "Dampak besar lainnya, kenaikan temperatur dan ketinggian permukaan laut," tambah Gonzales.

Penelitian Gonzales mengamati berbagai wilayah di seluruh dunia ini. Pada sejumlah area yang ekosistemnya mengalami perubahan besar, menurutnya, "Lebih terkait karena faktor perubahan iklim daripada faktor-faktor lain."

Riset ini, menurut Gonzales, diharapkan dapat menyediakan informasi dan data yang bisa dipakai sebagai rujukan dalam mengelola metode-metode adaptasi terhadap perubahan ini. "Saat tidak memungkinkan lagi, relokasi diperlukan," katanya.(National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/07/11/17370656/Perubahan.Iklim.Mengubah.Ekosistem

Polusi Malah Menunda Pemanasan Global

Written By Agus Dwianto on Senin, 11 Juli 2011 | 12.37

KOMPAS.com — Emisi yang dihasilkan dari penggunaan batu bara oleh negara-negara Asia diperkirakan menunda pemanasan global selama satu dekade sejak 1998. Meskipun demikian, ancaman efek rumah kaca masih nyata dan dampaknya dapat terasa ketika negara-negara berkembang berhasil mengatasi polusi.

Penundaan kenaikan suhu itu diakibatkan sulfur dalam jumlah sangat banyak dan memiliki efek mendinginkan pada planet. Aerosol yang dihasilkan dari sulfur menyebabkan pembentukan lapisan awan tebal yang membuat sinar matahari tidak sepenuhnya masuk ke bumi.
Cerobong asap menghiasi senja di kawasan pesisir, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (11/10/2010). Selain emisi gas buang kendaraan bermotor, sektor industri juga memiliki andil dalam pencemaran udara dan pemanasan global.

"Penundaan ini bisa dibilang fatamorgana," ujar para peneliti yang berasal dari berbagai universitas, termasuk Boston dan Harvard University dari AS dan University of Turku dari Finlandia. "Efek dari pelepasan karbon selain sulfur akan muncul dalam jangka panjang," demikian tertera dalam laporan yang diterbitkan hari Minggu lalu.

Penundaan peningkatan temperatur ini tidak akan berlangsung lama. Demikian dijelaskan peneliti. Ketika negara-negara berkembang berhasil mengatasi polusi, emisi sulfur juga akan berkurang. "Aerosol di atmosfer akan berkurang dan suhu planet akan meningkat cepat mengingat jumlah karbon di atmosfer pun sudah banyak," ujarnya.

Laporan itu juga berisi tentang fakta bahwa peningkatan temperatur global tidak berubah secara signifikan selama tahun 1998 sampai 2008 meskipun berton-ton emisi karbon dilepaskan ke atmosfer.

Emisi karbon pada masa itu banyak dihasilkan oleh negara-negara Asia yang ekonominya sedang berkembang. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/07/06/16062921/Polusi.Malah.Menunda.Pemanasan.Global

Irfan dan Burung Pelatuk

Written By Agus Dwianto on Minggu, 10 Juli 2011 | 21.48

Hari Minggu, Irfan berjalan-jalan di sebuah hutan dengan Ayahnya. Ketika tengah berjalan, ia memikirkan betapa indahnya pepohonan dan seluruh alam semesta. Ayahnya kemudian bertemu dengan seorang teman, dan ketika dua orang dewasa itu bercakap-cakap, Irfan mendengar sebuah suara:

Tuk, tuk, tuk, tuk, tuk, tuk ... Suara itu datang dari sebuah pohon. Irfan mendatangi burung yang membuat suara itu, dan bertanya:

“Mengapa engkau memukuli pohon dengan paruhmu seperti itu?”


Burung itu menghentikan pekerjaannya, dan berbalik memandang Irfan. “Aku seekor pelatuk,” jawabnya. “Kami membuat lubang di pepohonan, dan membangun sarang-sarang kami di dalamnya. Kadang-kadang kami menyimpan makanan di dalam lubang-lubang pohon ini. Lubang ini adalah lubang pertama buatanku. Aku akan membuat ratusan lubang persis seperti ini.” Irfan memperhatikan lubang itu. “Bagus. Tapi, bagaimana engkau menyimpan makanan di tempat sekecil ini?” Ia berpikir.

“Sebagian besar burung pelatuk memakan biji ek. Biji-biji ini cukup kecil,” si pelatuk menjelaskan. “Di dalam setiap lubang, aku akan meletakkan sebiji ek. Dengan cara itu, aku dapat menyimpan cukup makanan untuk diriku sendiri.”

Irfan bingung. “Tapi, daripada capek-capek membuat puluhan lubang kecil seperti ini,” katanya, “kamu bisa membuat sebuah lubang besar dan menyimpan semua makananmu di sana.”

Burung pelatuk itu tersenyum. “Kalau itu kulakukan, burung-burung lain akan datang dan menemukan tempat persediaan makananku. Mereka akan mencuri biji ek. Lubang yang kubuat berbeda-beda ukurannya. Ketika kuletakkan biji ek yang kutemukan ke dalam lubang, kusimpan sesuai dengan ukurannya. Ukuran biji ek persis sebesar lubang buatanku. Dengan cara itu, biji ek dapat menempati lubang dengan pas, dan rapat! Allah menciptakan paruhku sedemikian rupa sehinga aku dapat mengeluarkan biji ek dengan mudah dari dalam lubang. Karena itu, aku dapat mengambil dari pohon tanpa kesulitan apapun. Burung-burung lain tak dapat melakukan itu, karenanya, makananku aman. Tentu saja, aku tak punya otak untuk memikirkan semua itu. Aku ini cuma seekor pelatuk. Allah membuatku melakukan semua ini. Allahlah yang mengajariku bagaimana menyembunyikan makananku. Allah yang menciptakan paruhku dengan cara yang tepat untukku. Sesungguhnya, ini bukan hanya terjadi padaku—semua makhluk hidup mampu melakukan hal-hal yang mereka lakukan karena itulah cara yang diajarkan Allah pada mereka.”

Irfan setuju: “Engkau benar. Terimakasih telah memberitahu aku semua itu ... Kamu mengingatkan aku pada kuasa Allah yang luarbiasa.”

Irfan mengucapkan selamat jalan pada teman kecilnya, dan kembali pada Ayahnya. Ia sangat gembira karena ke manapun ia memandang, ia selalu melihat keajaiban Allah lainnya.

Sumber :Cerita untuk Anak Cerdas 2(Harun Yahya)

Bintang Zombie, Pengukur Energi Gelap

Written By Agus Dwianto on Sabtu, 09 Juli 2011 | 09.23

KOMPAS.com - Supernova adalah ledakan bintang yang menghasilkan cahaya terang di alam semesta. Salah satu supernova yang menarik untuk diteliti adalah supernova 1a. Ledakannya menghasilkan cahaya 1 miliar kali lebih terang dari Matahari. Uniknya, mengalami "kematian", supernova ini bisa "bangkit" dengan menghisap materi dari bintang "sahabat" dan karenanya disebut Bintang Zombie.

Bintang Zombie didapati di sistem bintang ganda dan merupakan hasil ledakan bintang katai putih (bintang yang ukurannya kecil). Biasanya, bintang katai putih yang membentuk supernova 1a memiliki massa yang sama dengan "sahabatnya", namun beberapa penemuan mengindikasikan adanya bintang dengan massa lebih besar meledak.

Andy Howell, astrofisikawan Las Cumbres Observatory Global Telescope Network (LCOGT), mengatakan, "Kemungkinan, ada dua bintang katai putih yang bersatu, jadi sistem bintang ganda. Ketika bersatu, mereka meledak."

Penemuan Bintang Zombie penting dalam astronomi. "Bintang-bintang Zombie ialah alat pengukur energi gelap. Mereka memiliki kecerlangan yang sama sehingga bisa dipakai untuk mengetahui jarak semesta," kata Howell seperti dikutip Universe Today, Kamis (30/6/2011).

Diketahui, energi gelap berkaitan dengan pengembangan semesta. Kecepatan semesta mengembang tidak konstan atau melambat karena pengaruh gravitasi seperti yang diperkirakan. Ada gaya yang justru menyebabkan pengembangan semakin cepat dan itulah yang disebut energi gelap.

Energi gelap diperkirakan menyusun 3/4 bagian semesta. "Itulah hasil yang sepertinya terindikasikan, bahwa energi gelap terdistribusi ke penjuru semesta. Energi gelap seperti menjadi ciri semesta padahal sebenarnya kita tidak yakin."

Karena Bintang Zombie memiliki kecerlangan yang sama, Howell mengatakan, 'Kita bisa menggunakan supernova 1a untuk mengupayakan pengukuran yang lebih baik." Langkah awalnya tentu saja adalah menemukan lebih banyak lagi supernova.

Howell mengatakan, langkah mengukur energi gelap bukanlah hal tak mungkin. "Kita sekarang memiliki kamera digital ukuran besar pada teleskop serta teleskop yang berukuran besar. Kita bisa survei langit yang luas secara reguler, menemukan supernova setiap hari," kata Howell.

Dalam publikasinya di Nature Communication, Howell menuliskan, "Dekade selanjutnya adalah waktu memahami setiap aspek supernova 1a, dari fisika ledakan hingga kegunaannya sebagai 'lilin' standard. Dengan pengetahuan ini mungkin akan datang kunci untuk mengungkap rahasia tergelap dari energi gelap."

Sumber :http://sains.kompas.com/read/2011/07/06/09214976/Bintang.Zombie.Pengukur.Energi.Gelap
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog Agus Dwianto - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger