Info Sains

Latest Post

Bintang Zombie, Pengukur Energi Gelap

Written By Agus Dwianto on Sabtu, 09 Juli 2011 | 09.23

KOMPAS.com - Supernova adalah ledakan bintang yang menghasilkan cahaya terang di alam semesta. Salah satu supernova yang menarik untuk diteliti adalah supernova 1a. Ledakannya menghasilkan cahaya 1 miliar kali lebih terang dari Matahari. Uniknya, mengalami "kematian", supernova ini bisa "bangkit" dengan menghisap materi dari bintang "sahabat" dan karenanya disebut Bintang Zombie.

Bintang Zombie didapati di sistem bintang ganda dan merupakan hasil ledakan bintang katai putih (bintang yang ukurannya kecil). Biasanya, bintang katai putih yang membentuk supernova 1a memiliki massa yang sama dengan "sahabatnya", namun beberapa penemuan mengindikasikan adanya bintang dengan massa lebih besar meledak.

Andy Howell, astrofisikawan Las Cumbres Observatory Global Telescope Network (LCOGT), mengatakan, "Kemungkinan, ada dua bintang katai putih yang bersatu, jadi sistem bintang ganda. Ketika bersatu, mereka meledak."

Penemuan Bintang Zombie penting dalam astronomi. "Bintang-bintang Zombie ialah alat pengukur energi gelap. Mereka memiliki kecerlangan yang sama sehingga bisa dipakai untuk mengetahui jarak semesta," kata Howell seperti dikutip Universe Today, Kamis (30/6/2011).

Diketahui, energi gelap berkaitan dengan pengembangan semesta. Kecepatan semesta mengembang tidak konstan atau melambat karena pengaruh gravitasi seperti yang diperkirakan. Ada gaya yang justru menyebabkan pengembangan semakin cepat dan itulah yang disebut energi gelap.

Energi gelap diperkirakan menyusun 3/4 bagian semesta. "Itulah hasil yang sepertinya terindikasikan, bahwa energi gelap terdistribusi ke penjuru semesta. Energi gelap seperti menjadi ciri semesta padahal sebenarnya kita tidak yakin."

Karena Bintang Zombie memiliki kecerlangan yang sama, Howell mengatakan, 'Kita bisa menggunakan supernova 1a untuk mengupayakan pengukuran yang lebih baik." Langkah awalnya tentu saja adalah menemukan lebih banyak lagi supernova.

Howell mengatakan, langkah mengukur energi gelap bukanlah hal tak mungkin. "Kita sekarang memiliki kamera digital ukuran besar pada teleskop serta teleskop yang berukuran besar. Kita bisa survei langit yang luas secara reguler, menemukan supernova setiap hari," kata Howell.

Dalam publikasinya di Nature Communication, Howell menuliskan, "Dekade selanjutnya adalah waktu memahami setiap aspek supernova 1a, dari fisika ledakan hingga kegunaannya sebagai 'lilin' standard. Dengan pengetahuan ini mungkin akan datang kunci untuk mengungkap rahasia tergelap dari energi gelap."

Sumber :http://sains.kompas.com/read/2011/07/06/09214976/Bintang.Zombie.Pengukur.Energi.Gelap

3 Trik Membaca Buku Lebih Efektif

Written By Agus Dwianto on Jumat, 08 Juli 2011 | 15.38

KOMPAS.com - Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, "Aduh, sudah lupa", atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi, cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku "101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda" yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin membagi 3 cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?


Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. "Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya," kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (3/7/2011).

Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.

"Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misal, anda tidak suka, tidak sependapat,dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi," paparnya.

Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.

Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. "Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu," kata Anthony.

Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/05/08425625/3.Trik.Membaca.Buku.Lebih.Efektif

Faruk dan Rayap

Written By Agus Dwianto on Kamis, 07 Juli 2011 | 22.30

Hari Minggu yang cerah. Faruk bepergian ke hutan untuk berpiknik dengan guru dan teman-teman sekelasnya. Setibanya di sana, mereka mulai bermain petak umpet.

Tiba-tiba, Faruk mendengar sebuah suara menjerit, “Hati-hati!” Faruk mulai melihat ke kanan dan ke kiri, tak pasti darimana suara itu berasal. Namun, tak seorangpun di sana. Kemudian, didengarnya suara yang sama. Kali ini, suara itu berkata, “Aku ada di bawah sini!” Tepat di sebelah kakinya, Faruk melihat seekor serangga yang tampak mirip sekali dengan semut.

“Kamu siapa?” tanya Faruk.

“Aku adalah seekor rayap,” makhluk mungil itu menjawab.

“Aku tidak pernah mendengar makhluk yang bernama rayap,” ledek Faruk. “Kamu tinggal sendiri?”

“Tidak,” jawab serangga itu, “Kami tinggal di sarang-sarang dalam kelompok-kelompok besar. Kalau kamu mau, aku akan memperlihatkan salah satu padamu.”

Faruk setuju, dan mereka berjalan. Ketika mereka tiba, apa yang diperlihatkan rayap pada Faruk tampak seperti sebuah bangunan tinggi tanpa jendela.

“Apa ini?” Faruk ingin tahu.

“Inilah rumah kami,” rayap itu menjelaskan.”Kami membangunnya sendiri.”

“Tapi, kamu begitu kecil,” bantah Faruk. “Kalau teman-temanmu ukurannya juga sama denganmu, bagaimana mungkin kalian bisa membuat sesuatu yang begitu besar seperti ini?”

Rayap tersenyum. “Kamu memang pantas terkejut, Faruk. Makhluk kecil seperti kami mampu membuat tempat-tempat seperti ini benar-benar mengejutkan. Tapi jangan lupa, semua ini gampang saja untuk Allah, Pencipta kita semua.”

“Lebih dari itu, selain sangat tinggi, rumah-rumah kami memiliki keistimewaan-keistimewaan lain. Misalnya, kami membuat ruang-ruang khusus untuk anak-anak, tempat-tempat untuk menumbuhkan jamur, dan kamar tempat ratu bertahta di rumah-rumah kami. Kami tidak lupa membuat sebuah sistem pertukaran hawa untuk rumah kami. Dengan cara itu, kami dapat menyeimbangkan kelembapan dan suhu di dalam ruangan. Dan, sebelum aku lupa, biarkan aku memberitahu hal-hal lain, Faruq. Kami ini tidak bisa melihat!”

Faruq sangat takjub. “Meskipun kamu begitu kecil sampai-sampai sulit terlihat, kamu bisa membuat rumah-rumah persis seperti gedung-gedung tinggi yang dibuat manusia. Bagaimana kalian melakukan ini semua?”

Rayap itu lagi-lagi tersenyum. “Seperti kukatakan sebelumnya, Allah-lah yang memberi kami semua bakat-bakat luarbiasa ini. Ia menciptakan kami sedemikian rupa hingga kami mampu melakukan hal-hal semacam ini. Tapi Faruq, sekarang aku harus pulang ke rumah dan membantu teman-temanku.”

Faruq memahami. “Oke, aku sendiri ingin pergi dan memberitahu orangtua serta teman-temanku tentang apa yang telah kupelajari darimu barusan.”

“Gagasan yang bagus, Faruk,” Rayap melambaikan tangan. “Jaga dirimu. Semoga kita bisa bertemu lagi.”


Sumber :Cerita untuk Anak Cerdas 2 (Harun Yahya)

Lidah Bunglon Lebih Cepat daripada Pesawat Jet Tempur

Written By Agus Dwianto on Rabu, 06 Juli 2011 | 22.03

Buku-buku teks zologi menjelaskan bahwa lidah balistik bunglon diperkuat oleh seutas otot pemercepat (akselerator). Otot ini memanjang ketika menekan ke bawah pada tulang lidah, yang berupa tulang rawan kaku di tengah lidah, yang membungkusnya. Akan tetapi, dalam sebuah penelitian yang telah disetujui untuk diterbitkan oleh majalah ilmiah Proceedings of the Royal Society of London (Series B), dua ahli morfologi yang memelajari kebiasaan makan bunglon menemukan unsur-unsur lain yang terkait dengan gerakan cepat lidah binatang ini. (1)

Kedua peneliti Belanda ini, Jurriaan de Groot dari Universitas Leiden, dan Johan van Leeuwen dari Universitas Wageningen, mengambil film-film sinar X berkecepatan tinggi, yakni 500 bingkai per detik, dalam rangka menyelidiki bagaimana lidah bunglon bekerja ketika menangkap mangsa. Film-film ini menunjukkan bahwa ujung lidah bunglon mengalami percepatan 50 g (g = konstanta gravitasi). Percepatan ini lima kali lebih besar daripada yang dapat dicapai oleh sebuah jet tempur.

Para peneliti ini membedah jaringan lidah dan menemukan bahwa otot pemercepat sama sekali tidak cukup kuat untuk menghasilkan gaya yang diperlukan ini sendirian. Dengan meneliti lidah bunglon, mereka menemukan keberadaan sedikitnya 10 bungkus licin, yang hingga saat itu belum diketahui, di antara otot pemercepat dan tulang lidah. Bungkus-bungkus ini, yang melekat ke tulang lidah di ujungnya yang terdekat dengan mulut, teramati mengandung serat-serat protein berajutan spiral. Serat-serat ini memadat dan berubah bentuk ketika otot pemercepat mengerut dan menyimpan tenaga bagaikan seutas pita karet yang tertekan. Ketika mencapai ujung bulat tulang lidah, bungkus-bungkus yang ketat dan memanjang ini secara bersamaan menggelincir dan mengerut dengan kekuatan dan melontarkan lidah. Secepat serat-serat ini menggelincir dari tulang lidah, bungkus-bungkus saling memisahkan diri bagaikan tabung-tabung sebuah teleskop, dan karena itu lidah mencapai jangkauan terjauhnya. Van Leeuwen berkata, “ini adalah ketapel teleskopis.”

Ketapel ini memiliki ciri lain yang amat menyolok. Ujung lidah mengambil bentuk hampa pada saat menghantam mangsa. Ketika terlontar, lidah ini dapat menjulur sejauh enam kali panjangnya ketika istirahat di dalam mulut, dan dua kali panjang tubuhnya sendiri.

Jelaslah bahwa bungkus-bungkus yang saling terhubung pada lidah bunglon ini tidak pernah dapat dijelaskan menurut evolusi. Dalam wacana itu, mari kita ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Bagaimanakah masing-masing bungkus ini berevolusi ke tempatnya yang benar?

2. Bagaimanakah lidah tumbuh sedemikian panjang?

3. Bagaimanakah otot pemercepat muncul?

4. Bagaimanakah bungkus-bungkus menyelaraskan gerak-geriknya sehingga membuat lidah mencapai panjang maksimumnya?

5. Bagaimanakah bungkus-bungkus menumbuhkan kemampuan untuk “memanjangkan diri bak tabung-tabung teleskop”?

6. Bagaimanakah binatang tersebut menyatukan semua bagian ini setelah “meluncurkan” lidah?

7. Jika lidah ini diperoleh sebagai sifat menguntungkan akibat proses evolusi, lalu mengapa sifat unggul ini tidak berkembang pada binatang-binatang lain dan mengapa binatang-binatang lain tidak memiliki cara berburu yang sama?

8. Bagaimanakah bunglon (atau binatang yang dianggap moyang peralihannya) dapat bertahan hidup ketika semua sistem yang rumit ini diduga pelan-pelan berevolusi? (2)

Seorang evolusionis tidak akan memiliki jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini. Gambar di sebelah kiri, sebuah lukisan yang mewakili penampang melintang lidah bunglon, menyingkapkan bahwa sistem sempurna ini bergantung pada penciptaan yang amat khusus. Kelompok-kelompok otot dengan sifat-sifat yang berbeda secara tanpa cela melontarkan lidah, memercepatnya, menyebabkan lidah mengambil bentuk isap ketika menghantam mangsanya dan lalu cepat-cepat menariknya. Kelompok-kelompok otot ini sama sekali tidak saling menghalangi fungsi masing-masing, namun bekerja dengan cara yang terselaraskan dalam menghantam mangsa dan menarik lidah kembali ke mulut dalam waktu kurang dari sedetik. Tambahan lagi, berkat kerjasama antara sistem penglihatan dan otak, kedudukan mangsa diukur dan perintah bagi lidah balistik untuk “menembak!” diberikan oleh syaraf yang mengirimkan isyarat di dalam otak.

Sudah pasti, bunglon tidak dapat memikirkan dan merancang sendiri rancangan yang demikian rumit itu. Penciptaan ini menyingkapkan keberadaan Allah, Sang Mahatahu dan Mahakuasa. Tidak ada keraguan bahwa Allahlah, Yang Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahabijaksana, Yang menciptakan bunglon.



Sumber : Kumpulan Artikel Harun Yahya

--------------------------------------------------------------------------------

1. Menno Schilthuizen, "Slip of the Chameleon's Tongue," Science Now, 8 March 2004, http://sciencenow.sciencemag.org/cgi/content/full/2004/308/1
2. Brad Harrub, "The Chameleon's Incredible (Tongue) Acceleration!", http://www.apologeticspress.org/inthenews/2004/itn-04-08.htm

Kaos Inovatif Ubah Musik Jadi Listrik

Written By Agus Dwianto on Selasa, 05 Juli 2011 | 15.42

LONDON, KOMPAS.com - Menjelang diadakannya Glastobury Music Festival di Inggris, inovasi datang dari perusahaan telekomunikasi Perancis, Orange. Mereka menciptakan kaos yang bisa mengubah suara bising menjadi listrik sehingga bisa dipakai pengguna mengisi ulang baterai handset ketika menonton pertunjukan musik tersebut.

Prototipe kaos yang disebut "Sound Charge" itu kini tengah dikembangkan. Material kaos terbuat dari piezoelektrik film, bahan yang mampu mengubah suara menjadi listrik lewat kompresi interlaced quartz crystal. Sekali bisa 'dibangkitkan', listrik akan disimpan di reservoir baterai yang ada hingga kemudian bisa dialirkan ke handset.
Kaos ini mengubah suara dari speaker menjadi listrik yang bisa digunakan untuk mengisi ulang baterai berkat teknologi piezoelektrik.

Mengungkapkan alasan penciptaan kaos ini, Andrew Pearcy dari cabang Orange di Inggris seperti dikutip Gizmag, mengatakan, "Dalam suasana bising seperti di Glastonbury, suara adalah medium yang sudah pasti dan natural untuk digunakan dalam pengembangan prototipe kaos tahun ini."

Kaos ini memang tak se-fashionable kaos biasa. Tapi yang utama menurut pengembang, kaos itu bisa mendukung gerakan peduli lingkungan serta tetap nyaman dipakai. Pengembang juga memperhatikan bahwa kaos juga perlu dicuci. Oleh karena itu, seluruh perangkat elektronik didesain untuk bisa dilepas sehingga kaos bisa dicuci. Kebisingan di festival musik di Inggris yang akan berlangsung seminggu itu bisa menjadi waktu ujicoba keampuhan kaos mengisi ulang handset.

Namun, situs teknologi the Register melaporkan, bahkan dalam seminggu festival musik kaos hanya bisa menyimpan listrik 6 Wh sehingga cuma bisa mengisi ulang ponsel standar dua kali dan smartphone sekali.

Tahun lalu, Orange juga menciptakan sepatu boot dengan charger di bagian bawahnya sehingga bisa membangkitkan listrik dari langkah pengguna. Sangat membantu bukan kalau akhirnya semua yang Anda pakai bisa membangkitkan listrik?


Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/07/05/1327386/Kaos.Inovatif.Ubah.Musik.Jadi.Listrik

Hari Ini Jarak Terjauh Bumi-Matahari

Written By Agus Dwianto on Senin, 04 Juli 2011 | 16.56

KOMPAS.com — Senin (4/7/2011), Bumi akan berada pada jarak paling jauh dari Matahari, yakni 152.102.196 kilometer. Akibatnya, matahari akan tampak 3 persen lebih kecil dari biasanya. Namun, perbedaan ini tentu tidak tampak dengan mata telanjang. Posisi Bumi yang menjauhi matahari juga tidak memengaruhi cuaca Bumi.

"Perbedaannya mungkin tidak kentara, tetapi jelas dapat diukur," kata Mark Hammergen, astronom dari Adler Planetarium, Chicago, Amerika Serikat.

Untuk mengetahui perbedaan antara aphelium dan perihelium klik tanda panah pada animasi di bawah ini.


Jarak Bumi terhadap Matahari selalu berubah karena orbit Bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, tetapi elips. Fenomena ini dijelaskan secara detail untuk kali pertama dengan perhitungan matematika oleh astronom Jerman, Johannes Kepler, pada abad ke-17.

Bentuk elips memungkinkan Bumi berada pada posisi paling dekat dengan Matahari (disebut perihelion) dan posisi paling jauh (dikenal afelion).

Meskipun Bumi berada pada posisi lebih jauh dari Matahari, belahan Bumi bagian utara tetap merasakan musim panas. "Hal tersebut disebabkan oleh kemiringan Bumi yang memengaruhi musim," kata Hammergen. Saat ini, sumbu utara-selatan Bumi berada pada kemiringan 23,4 derajat.

Kebetulan, Kutub Utara tengah menghadap Matahari saat Bumi berada pada posisi afelion. "Artinya, siang akan lebih panjang daripada malam pada Bumi belahan utara," ucap Hammergen. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/07/04/12380927/Hari.Ini.Jarak.Terjauh.Bumi-Matahari

Ali dan Burung Unta

Written By Agus Dwianto on Sabtu, 02 Juli 2011 | 22.09

Ali sedang makan, sambil menonton film kartun di televisi. Dalam kartun itu, seekor burung unta berlari dikejar anjing. Burung unta lari begitu cepat hingga ia dapat melarikan diri dari sang anjing, dan kembali berkumpul dengan teman-temannya di sarang. Sebelumnya, Ali selalu mengira burung unta adalah sejenis unggas yang kerjanya membenamkan kepala di dalam pasir. Ali tak tahu kalau burung unta juga pelari yang hebat.

“Maksudmu, kamu tidak tahu kalau kami bisa berlari cepat?” tanya sebuah suara.

Ali memperhatikan sekelilingnya, terkejut, sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari televisi. Ia mendekatinya dan mulai berbicara dengan si burung unta di layar televisi.


“Kamu benar,” kata burung unta terengah-engah, kehabisan napas. “Kami adalah burung-burung terbesar di dunia. Kami lebih tinggi dibanding manusia! Contohnya, aku. Tinggiku dua setengah meter, dan beratku 265 pon (120 kilogram). Kami tidak bisa terbang, namun Allah memberi kami kemampuan yang berbeda sehingga kami dapat melarikan diri dari musuh-musuh kami. Kami berlari sangat cepat dengan kaki-kaki panjang kami, begitu cepat hingga tak seorang pun dapat menangkap kami kalau berlari dengan kakinya sendiri. Di dunia makhluk hidup, kami adalah pelari cepat yang memiliki dua kaki. Kami bisa mencapai kecepatan hingga sekitar 45 mil (70 kilometer) per jam jika kami betul-betul berlari.”

Ali memperhatikan teman barunya lebih seksama. “Bisa saja aku salah. Tapi, kakimu Cuma punya dua jari ya? Betul, nggak?”

Burung unta mengangkat salah satu kakinya agar Ali bisa memperhatikan lebih baik. “Ya. Kami hanya punya dua jari di setiap kaki. Dan salah satu dari jari ini lebih besar dibanding yang lain. Kami hanya berlari menggunakan jari besar kami. Seperti kaulihat, Allah menciptakan kami persis seperti Ia menciptakan makhluk hidup lainnya. Semua berawal dari ketiadaan dalam cara yang unik. Ia memberi kami sejumlah besar ciri-ciri untuk membantu kami bertahan hidup. Kami punya banyak ciri yang berbeda dibanding burung lain yang mungkin kamu kenal …”

“Itu benar sekali,” Ali merenung. “Aku memikirkan bagaimana caramu menetaskan anak ke dunia ini?”

“Well, Ali,” jawab si burung unta. “Karena badan kami sangat besar, maka telur kami pun juga sangat besar. Kami menggali sebuah lubang besar di pasir, dan kami kuburkan telur-telur raksasa kami di dalamnya. Kami letakkan 10 sampai 12 telur sekaligus, karena itu, kami harus membuat sebuah lubang besar yang cukup untuk semua telur. Dengan kata lain, kami betul-betul menggali sebuah lubang yang sangat besar.” Ali menimbang selama satu dua detik. “Mengapa kamu membuat lubang-lubang itu di pasir?” ia bertanya pada teman barunya.

Burung unta tersenyum, dan menjilat-jilat bulu-bulunya. “Kalau kami membuat lubang itu di dalam tanah, bukannya di pasir, maka pengeraman telur akan berlangsung lama sekali. Itu membuat kami sangat lelah. Memindahkan pasir jauh lebih mudah dibanding memindahkan tanah. Kamu bahkan bisa menggali pasir dengan jarimu, sementara untuk menggali tanah, kamu memerlukan sekop. Itulah mengapa kami lebih suka memanfaatkan pasir. Dengan pasir, kami dapat melakukan pekerjaan kami lebih cepat, tanpa perlu terlalu melelahkan diri.”

“Setelah telur-telur kami letakkan di dalam lubang, juga lebih mudah untuk menutupinya dengan pasir.Tahukah kamu, di dunia saat ini, terdapat jutaan makhluk hidup yang berbeda-beda jenisnya. Semua makhluk memiliki ciri-ciri luarbiasa. Allah menciptakan kami semua. Allahlah yang mengajari apapun yang kami lakukan.”

Ali bangkit saat program itu hampir berakhir. “Bertemu denganmu semakin menambah cinta dan kedekatanku pada Allah. Terima kasih untuk semua yang telah kauceritakan padaku. Sampai jumpa.”

Sumber : Cerita untuk Anak Cerdas 2 (Harun Yahya)

Manusia Bisa Melihat Medan Magnet

Written By Agus Dwianto on Jumat, 01 Juli 2011 | 06.38

KOMPAS.com - Tanpa disadari, manusia sebenarnya bisa melihat medan magnet Bumi karena adanya suatu senyawa dalam mata. Ada kemungkinan, nenek moyang manusia dulu punya kemampuan tersebut.

Sebuah studi menunjukkan bahwa ada kemungkinan protein bernama cryptochrome muncul pada retina. Protein tersebut banyak didapati pada hewan dan tumbuhan sehingga beberapa spesies bisa menggunakan medan magnet Bumi untuk melakukan navigasi.

Elektron dalam molekul cryptochrome saling terkait. Medan magnet Bumi menyebabkan elektron bergoyang. Reaksi kimiawi untuk merespons goyangnya elektron tersebut membuat burung dapat melihat medan maget dalam warna-warni.

Para peneliti sebelumnya mengira kalah cryptochrome tidak memiliki banyak keuntungan bagi manusia sehingga tidak dapat mengenali medan magnet seperti burung. Karenanya, manusia butuh patokan atau perangkat GPS untuk mengetahui arah.

Sangkaan ini yang sepertinya harus diubah setelah para ahli saraf dari University of Massachusetts melakukan penelitian. Mereka mengambil cryptochrome dari manusia dan memberikannya pada lalat buah yang kehilangan kemampuan melihat medan magnet. Hasilnya, seperti dilaporkan Wired Science, lalat buah kembali memiliki kemampuan melihat medan magnet.

Sayangya pada manusia, cara kerja cryptochrome tidak seperti pada lalat. "Kami tidak tahu apakah kerja molekul itu sama pada retina manusia. Tapi kemungkinan itu ada," kata Steven Reppert, ahli saraf dari University of Massachusetts. Saat ini ilmuwan mengetahui bahwa cryptochrome pada manusia berfungsi sebagai jam molekul, bukan sebagai kompas.

Tapi para peneliti menduga bahwa nenek moyang manusia terbantu dengan adanya protein tersebut untuk menentukan arah. Jika suatu saat para peneliti berhasil mengembalikan kemampuan tersebut... selamat tinggal perangkat GPS. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)


Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/07/01/00515284/Manusia.Bisa.Melihat.Medan.Magnet
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blog Agus Dwianto - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger